Baiklah, ini adalah kisah dracin pendek berjudul 'Air Mata yang Menjadi Doa Untuk Musuh', dengan bumbu misteri dan tikungan tak terduga: **Air Mata yang Menjadi Doa Untuk Musuh** Lorong Istana Yan sunyi senyap, hanya diterangi rembulan pucat yang mengintip malu di balik awan. Kabut dingin merayap di lantai marmer, menyelimuti ukiran naga yang dahulu gagah, kini terlihat suram dan menakutkan. Di ujung lorong, seorang pria berdiri. Wajahnya pucat, nyaris transparan di bawah cahaya bulan. Dia adalah Li Wei, *anak haram* yang dahulu dianggap mati tenggelam sepuluh tahun lalu. Li Wei menatap sosok yang menunggunya di ujung lorong. Wanita anggun berbalut sutra ungu, dengan tusuk konde phoenix yang berkilauan – Permaisuri Xia, bibinya sendiri. "Kau kembali, Wei'er," sapa Permaisuri Xia, suaranya lembut bagai bisikan angin. "Kukira laut telah menelanmu selamanya." "Laut memang mencoba," jawab Li Wei, suaranya serak, seperti gemerisik daun kering di musim gugur. "Namun takdir berkata lain. *Takdir* memaksaku untuk kembali, bibi. Untuk mencari jawaban." Permaisuri Xia tersenyum tipis. "Jawaban? Jawaban apa yang kau cari di sini, Nak? Bukankah kau sudah tahu siapa yang bertanggung jawab atas 'kecelakaan'mu?" Li Wei melangkah mendekat, aroma dupa cendana dari jubahnya memenuhi udara. "Tentu saja aku tahu. Aku melihat wajah-wajah itu, mendengar bisikan-bisikan keji itu. Mereka pikir aku lemah, tak berdaya. Mereka salah. *Mereka SANGAT SALAH*." "Lalu, apa yang kau inginkan, Wei'er? Balas dendam? Darah?" Permaisuri Xia mengangkat alis, nada suaranya berubah menjadi dingin dan tajam. Li Wei berhenti tepat di depan Permaisuri Xia. Matanya yang tadinya kosong, kini memancarkan kilatan *mematikan*. "Aku tak menginginkan apapun yang sudah kumiliki, bibi. Aku tak menginginkan *tahta* atau *kekuasaan*. Aku hanya ingin... melihat kalian semua hancur perlahan. Merasakan kepedihan yang kurasakan." Permaisuri Xia tertawa lirih, suaranya bagai belati yang menembus jantung. "Kau naif, Wei'er. Kau pikir rencanamu ini cerdik? Kau pikir kau bisa mengalahkanku, mengalahkan *kekuatan* yang kupunya? Kau pikir aku tak tahu kau kembali?" Li Wei tersenyum. Senyum yang lebih mengerikan dari tatapan iblis. "Oh, bibi. Aku tahu kau tahu. Aku *sengaja* membiarkanmu tahu. Karena inilah bagian TERAKHIR dari rencanaku. Bagian di mana kau menyadari... bahwa setiap air mata yang kuteteskan selama sepuluh tahun terakhir, adalah *DOA* untuk kejatuhanmu." Kabut semakin tebal, menyelimuti lorong istana. Aroma cendana bercampur dengan bau anyir darah yang tiba-tiba menguar di udara. Permaisuri Xia terhuyung mundur, matanya membelalak penuh kengerian. "Kau... kau... bagaimana mungkin?" bisiknya, suaranya bergetar. Li Wei mendekat, membisikkan sebuah rahasia di telinga bibinya. Rahasia yang mengubah segalanya. Rahasia yang membuktikan bahwa ia, anak haram yang dianggap korban, justru adalah *DALANG* di balik seluruh tragedi ini. "Bibi lupa?" bisik Li Wei, senyumnya semakin lebar. "Air mata seorang anak haram... bisa menjadi senjata yang paling mematikan." Permaisuri Xia jatuh berlutut. Cahaya bulan menyorot wajahnya yang hancur. *Dan di saat itulah, ia menyadari bahwa seluruh hidupnya adalah bagian dari permainan Li Wei, sebuah opera kematian yang ditulis dengan air mata dan dijalankan dengan kesabaran seorang pendendam.*
You Might Also Like: Unveiling Your Destiny December 4

Post a Comment