## Bisikan Angin di Lembah Terlarang Hujan menggigil menyelimuti Lembah Terlarang, setiap tetesnya bagai jarum yang menusuk kulit. Li Mei berdiri di bawah atap pagoda yang reyot, menatap kabut yang menelan jembatan batu di kejauhan. Lima belas tahun telah berlalu, namun aroma *pengkhianatan* masih menguar pekat di udara, sepekat lumpur yang mengotori jubahnya. Dulu, lembah ini adalah saksi bisu cintanya dan cinta Xi Wei. Bunga plum bermekaran di musim semi, dan mereka berdua akan tertawa riang di bawah pohon sakura yang rindang. Xi Wei, dengan senyumnya yang menawan dan matanya yang berbinar, berjanji untuk selamanya mencintai Li Mei. Janji yang kini terasa seperti pecahan kaca yang menusuk jantungnya setiap hari. Bayangan yang patah memanjang di kakinya. Ia mengingat malam itu. Malam di mana Xi Wei, dengan wajah tanpa ekspresi, menikahi putri Kaisar, demi *kekuasaan*. Ia ditinggalkan, terluka, dan dipermalukan. Malam itu, cahayanya padam, sama seperti lentera yang kini nyaris mati di tangannya. Xi Wei datang menemuinya tadi siang. Ia tampak lebih tua, lebih kurus, dan matanya kehilangan binar dulu. Ia meminta maaf. Memohon ampun. Ia bilang, ia melakukan semua itu untuk menyelamatkan rakyatnya dari kelaparan. Ia bilang, ia tak pernah berhenti mencintai Li Mei. Li Mei hanya tersenyum. Senyum dingin yang tak sampai ke matanya. Ia tahu betul kebohongan yang tersembunyi di balik setiap kata yang diucapkan Xi Wei. Ia tahu ambisi tersembunyi yang selalu membara dalam dadanya. Ia menyentuh liontin giok berbentuk burung phoenix yang tergantung di lehernya. Giok itu terasa dingin, sedingin hatinya. Giok yang dulu diberikan Xi Wei sebagai tanda cinta abadi. Giok yang sekarang menjadi simbol *pembalasan dendam* yang telah ia rencanakan dengan cermat selama bertahun-tahun. Ia menghela napas. Hujan semakin deras. Suara angin berbisik di telinganya, membawa rahasia-rahasia yang terkubur dalam lembah ini. Rahasia tentang masa lalu, tentang cinta yang berubah menjadi kebencian, dan tentang rencana kejam yang akan segera ia laksanakan. Xi Wei telah memberinya istana, permata, dan pengakuan. Tapi Li Mei tak menginginkan semua itu. Ia hanya menginginkan satu hal: melihat Xi Wei hancur, merasakan kepedihan yang dulu ia rasakan. Ia ingin melihat *KERUNTUHAN* kerajaannya. Ia menatap lentera yang cahayanya semakin redup. Ia tersenyum. Malam ini, pesta Kaisar akan berlangsung. Malam ini, rencana Li Mei akan dimulai. Malam ini, ***RAHASIA ITU AKAN TERUNGKAP***… Dan racun yang selama ini ia gunakan berasal dari air mata pertama Xi Wei saat mendengar kematian ibunya dulu, ***air mata yang dikumpulkan dan disempurnakan menjadi senjata yang paling mematikan.***
You Might Also Like: 0895403292432 Jual Skincare Anti

Post a Comment