**Tuan Muda, Aku Tak Lagi Menangis di Makammu, Karena Aku Kini Istrimu yang Baru** Udara musim semi beraroma pahit. Dulu, aroma ini selalu mengingatkanku pada senyum Tuan Muda Li, senyum yang kini terasa seperti *penghianatan*. Dulu, aku, Bai Lian, sering menghabiskan waktu di makamnya, air mata membasahi batu nisan yang dingin. Kini? Aku berdiri di altar, gaun pengantin merah menyala membungkus tubuhku, dan di hadapanku, berdiri Tuan Muda Zhang, pewaris tahta yang sama yang dulunya menjadi saingan Tuan Muda Li. Dulu, aku mengira cinta adalah matahari yang menghangatkan. Tapi cinta dari Tuan Muda Li adalah bulan – indah dari kejauhan, namun dingin membekukan jika didekati. Pelukannya… terasa begitu *beracun* kini. Janji-janjinya… berbuah belati yang menancap dalam di hatiku. Aku ingat betul bisikannya, “Lian’er, hanya kamulah matahariku.” Sebuah kebohongan manis yang ku telan mentah-mentah. Dulu, aku adalah Bai Lian yang rapuh, yang menangis dalam diam. Kini, aku adalah Bai Lian yang berbalut elegansi, menyembunyikan luka di balik senyum anggun. Dulu, aku adalah bidak. Kini… aku adalah ratu di papan catur ini. Pernikahan ini, bukan tentang cinta. Ini tentang *keadilan*. Keadilan untuk air mata yang kutumpahkan, untuk mimpi-mimpi yang dihancurkan, untuk hati yang remuk redam. Tuan Muda Zhang, pria yang kini menjadi suamiku, adalah alat. Dia tidak tahu, tentu saja. Dia pikir aku menginginkan kekayaan, kekuasaan. Dia tidak tahu bahwa aku hanya menginginkan satu hal: melihat mereka yang bertanggung jawab atas kematian Tuan Muda Li, dan rasa sakitku, *menderita*. Semua orang tahu persaingan sengit antara Tuan Muda Li dan keluarga Zhang. Semua orang tahu bagaimana Tuan Muda Li tiba-tiba jatuh sakit dan meninggal. *Semua orang tahu*, tapi tak seorang pun berani berbicara. Kecuali aku. Malam pertama pernikahan, aku tersenyum pada Tuan Muda Zhang. Senyum yang sama yang dulu kuberikan pada Tuan Muda Li. Senyum yang menipu. “Suamiku,” bisikku, “kau tahu, aku sangat merindukan Tuan Muda Li.” Ekspresi Tuan Muda Zhang berubah. Kebahagiaan semu yang tadi menghiasi wajahnya perlahan lenyap, digantikan oleh kerut khawatir yang dalam. Aku bisa melihat ketidaknyamanan itu, bibit *penyesalan* yang baru mulai tumbuh. Balas dendamku bukan tentang darah. Bukan tentang kekerasan. Ini tentang menghancurkan mereka dari dalam. Tentang membuat mereka hidup dengan bayangan Tuan Muda Li selamanya. Tentang memastikan bahwa setiap kali mereka melihatku, mereka akan mengingat dosa-dosa mereka. Aku akan memastikan bahwa mereka akan hidup dalam neraka yang abadi. Mereka tidak akan mati, mereka akan terus ada, mereka akan terus MENDERITA! Saat aku berjalan keluar dari kamar pengantin, mendengar suara Tuan Muda Zhang memanggil namaku dengan nada yang tidak kukenali, aku tersenyum. Bukan senyum bahagia, tapi senyum kemenangan. Senyum yang dingin, kalkulatif, dan penuh dengan dendam. Cinta dan dendam… lahir dari tempat yang… sama.
You Might Also Like: Agen Skincare Bimbingan Bisnis Online

Post a Comment