Kisah Populer: Cinta Yang Meninggalkan Bekas Di Singgasana

Cinta yang Meninggalkan Bekas di Singgasana

Lorong Istana Timur sunyi. Hanya gema langkah kaki yang berbalas, memecah keheningan yang mencekam. Kabut tipis merayap masuk dari jendela berukir naga, membawa aroma dingin dari pegunungan di kejauhan. Di sanalah, di balik kabut itu, legenda mengatakan bahwa Pangeran Lian pernah jatuh, menghilang ditelan jurang maut.

Tapi malam ini, legenda itu berdiri di hadapan Permaisuri Bai, sosoknya setegap gunung, matanya setajam pedang. Pangeran Lian, yang DIANGGAP MATI, kembali.

"Permaisuri," sapanya, suaranya serendah desir angin di antara pepohonan bambu. "Lama kita tidak bertemu. Istanamu semakin megah, namun hatimu... apakah sama dinginnya?"

Permaisuri Bai, dengan gaun sutra seputih salju, membalas tatapan itu tanpa gentar. "Pangeran Lian. Atau haruskah aku memanggilmu… Hantu Masa Lalu?"

"Masa lalu adalah guru," Lian menukas. "Dan masa depan… adalah HUKUMAN. Bertahun-tahun aku mengembara, mencari jawaban atas satu pertanyaan: Siapa yang mendorongku ke jurang itu?"

"Kau terjatuh, Lian. Kecelakaan. Semua orang tahu itu," jawab Bai, bibirnya melengkung sinis.

"Benarkah? Atau ada tangan tersembunyi yang mendorong takdirku?" Lian mendekat, aura bahayanya menyelimuti ruangan. "Aku ingat, Bai. Aku ingat aroma bunga plum di rambutmu, sesaat sebelum kegelapan menelanku."

Dialog mereka bagaikan pedang yang beradu, lembut namun menusuk, penuh makna tersembunyi. Permaisuri Bai menceritakan tentang kesetiaannya pada kerajaan, tentang cintanya pada Kaisar, dan tentang bagaimana dia telah berduka atas kehilangan Lian.

Namun, Lian menatap lekat-lekat mata Bai, mencari celah dalam topeng kepalsuan itu. Dia menuturkan sebuah kisah – kisah tentang seorang gadis yang terlalu ambisius, seorang wanita yang rela mengkhianati cinta demi kekuasaan. Kisah tentang seorang Permaisuri yang merencanakan semuanya.

Akhirnya, Bai tidak tahan lagi. Tawanya pecah, menggema di lorong yang sunyi. "Kau pikir kau pintar, Lian? Kau pikir dengan kembali, kau bisa meruntuhkan KERAJAAN yang telah kubangun?"

"Aku tahu kau akan mengakuinya," Lian berbisik. "Kau adalah dalang dari semua ini. Kau yang memanipulasi Kaisar, kau yang meracuni pikirannya. Dan kau... yang memerintahkan untuk menyingkirkanku."

Bai tersenyum dingin. "Kau benar. Aku melakukannya. Karena KAULAH satu-satunya yang menghalangi jalanku menuju singgasana."

Lian menatapnya, matanya dipenuhi kesedihan yang mendalam. "Aku mencintaimu, Bai. Bahkan setelah semua ini…"

"Cinta adalah kelemahan," balas Bai. "Dan aku tidak punya kelemahan." Dia mengangkat tangannya, memberi isyarat pada para penjaga yang tiba-tiba muncul dari kegelapan. "Bawa dia. Pastikan dia tidak akan pernah kembali mengganggu KEDAMAIAN kerajaanku."

Saat para penjaga menyeretnya pergi, Lian menatap Bai sekali lagi. Di matanya, dia melihat bukan hanya ambisi, tapi juga KETAKUTAN. Ketakutan akan kebenaran. Ketakutan akan bayangan masa lalunya sendiri.

Sebelum pintu-pintu besar itu tertutup, Lian mengucapkan kata-kata terakhirnya, kalimat yang menggantung di udara bagai kabut abadi: "Sayangnya, Bai, kau lupa satu hal… singgasana itu sendiri yang mendorongku ke dalam jurang itu."

You Might Also Like: Rekomendasi Sunscreen Lokal Dengan

Post a Comment