Layar ponselku menyala, notifikasi dari aplikasi obrolan yang DULU penuh dengan canda dan janji. Sekarang, hanya sunyi yang berdering. Di bawah hujan kota yang melarutkan kenangan, aku menyesap kopi pahit, aromanya seperti dia: memikat, tapi meninggalkan getir di lidah.
Semuanya dimulai dari sana, dari kolom komentar sebuah unggahan foto. Sebuah komentar iseng, berbalas senyum di dunia maya, lalu bertukar nomor telepon. Di dunia yang serba cepat ini, cinta kami tumbuh layaknya algorithm yang sempurna. Pertemuan pertama di sebuah kedai kopi, tatapan mata yang seolah mengenal dari lama, dan jemari yang saling mencari.
Dia, Arjuna, dengan senyumnya yang menenangkan dan cerita-cerita yang membuatku tertawa hingga lupa waktu. Aku, Srikandi, yang terpesona oleh dunianya yang penuh warna, meski terselip sekelumit misteri.
Namun, kebahagiaan itu rapuh, seperti gelembung sabun yang ditiup angin.
Percakapan kami semakin jarang. Notifikasi darinya semakin langka. Alibi-alibi yang terdengar janggal. Aku mencoba bertanya, namun dia selalu menghindar. Dinding tak kasat mata tumbuh di antara kami.
Sisa chat yang tak terkirim menumpuk di kotak pesan. Rangkaian kata yang seharusnya mengungkapkan perasaan, kini hanya menjadi bukti bisu dari cinta yang layu. Aku membaca ulang setiap percakapan, mencari petunjuk, mencari kesalahan, mencari... jawaban.
Kemudian, aku menemukannya.
Sebuah foto di akun media sosialnya, sebuah foto dirinya dengan wanita lain. Mereka tertawa, berpegangan tangan, dan sorot mata Arjuna padanya... sorot mata yang dulu hanya untukku.
Dunia seolah runtuh.
Rasa sakit itu menusuk, merobek setiap serat kepercayaanku. Pengkhianatan ini lebih pahit dari kopi yang kupesan setiap hari. Lebih dingin dari hujan kota yang membasahi jiwaku.
Selama ini, aku menyembah rasa sakitnya. Menerima setiap kebohongan, memaklumi setiap luka. Aku dibutakan oleh cinta, hingga lupa bahwa cinta sejati tidak akan pernah melukai.
Malam itu, aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Bukan dengan kemarahan, bukan dengan air mata. Melainkan dengan keheningan.
Aku menghapus semua fotonya, semua percakapan, semua kenangan. Aku blokir nomornya, aku unfollow semua akun media sosialnya. Aku menghapus keberadaannya dari duniaku.
Lalu, aku menulis pesan terakhir. Bukan untuknya. Tapi untuk diriku sendiri.
"Srikandi telah selesai berduka. Arjuna, selamat menikmati duniamu yang penuh kebohongan."
Aku kirim pesan itu, lalu meletakkan ponselku. Aku berdiri di balkon, menatap hujan kota yang kini terasa lebih tenang. Aku tersenyum, senyum terakhir untuk Arjuna. Senyum yang menyimpan kekuatan, senyum yang menandai akhir dari segalanya.
Aku memutuskan untuk pergi. Bukan secara fisik, melainkan secara emosional. Aku memutuskan untuk membebaskan diriku dari belenggu cinta yang menyakitkan.
Aku menutup segalanya tanpa kata.
Dan, di tengah sunyi malam, aku merasa kosong, tapi juga…
…bebas.
You Might Also Like: Jual Skincare Untuk Ibu Hamil Dan
Post a Comment