Cerpen Keren: Cinta Yang Mati Di Tepi Takdir

## Cinta yang Mati di Tepi Takdir Kabut *ungu* melayang di atas Danau Bulan Sabit, menyelimuti Paviliun Anggrek dengan kerudung mimpi. Di sanalah, lukisan itu, *tergantung* bisu, menatapku dengan mata yang familiar. Setiap sapuan kuas adalah hembusan angin dari masa lalu, setiap warna adalah pecahan kenangan yang bersemi dan layu di saat bersamaan. Di dalam lukisan itu, dia berdiri. Mei Hua, dengan gaun sutra *seputih salju* yang menari mengikuti irama angin yang tak terdengar. Matanya, *seperti dua bintang jatuh*, memancarkan kesedihan yang abadi. Aku mengenalnya, ya, aku mengenalnya seperti aku mengenal denyut jantungku sendiri. Tapi dari mana? Ingatan itu terasa *deja vu* yang menyakitkan, seolah mimpi yang terus berulang namun tak pernah mampu kuraih. Setiap malam, aku bermimpi tentangnya. Kami berlari di ladang ilalang yang berbisik, tangannya menggenggam tanganku, hangat dan nyata. Kami tertawa di bawah *hujan bunga persik* yang lembut, berbagi rahasia yang terlupakan oleh waktu. Namun, saat fajar menyingsing, dia menghilang, meninggalkan hanya sisa aroma dupa dan kerinduan yang membakar. Aku mencari jejaknya di setiap sudut kota terlarang, di setiap kuil kuno yang menyimpan debu sejarah. Aku bertanya pada para tetua, pada para penyair, pada para peramal buta. Tidak ada yang tahu tentang Mei Hua. Seolah dia hanyalah *ilusi*, fantasi yang diciptakan oleh otakku yang terluka. Namun, aku tidak menyerah. Aku tahu, *DI DALAM HATIKU*, bahwa dia nyata. Bahwa cinta kami, meskipun terkubur dalam dimensi waktu yang berbeda, tetap membara seperti bara api yang tersembunyi di bawah abu. Suatu senja, di saat matahari tenggelam memerah, seorang penjaga istana tua mendekatiku. Dia memegang gulungan perkamen yang usang. "Tuan," bisiknya dengan suara serak, "lukisan ini... lukisan ini berasal dari kamar mendiang Putri Mei Hua." Hatiku berdebar kencang. Perintahku, bacalah! Penjaga itu mulai membaca, suaranya bergetar di antara sunyi. Isi perkamen itu adalah catatan harian Putri Mei Hua. Tentang cinta terlarangnya dengan seorang pria yang datang dari *masa depan*, seorang pria yang hanya bisa ditemuinya dalam mimpi. Aku tertegun. Semua teka-teki itu menyatu dalam satu momen **PENGUNGKAPAN** yang ***MENYAKITKAN***. Aku adalah pria itu. Aku adalah cinta terlarang itu. Tapi... Putri Mei Hua meninggal muda, karena penyakit yang tak tersembuhkan. Cinta kami, *memang* mati di tepi takdir. Di halaman terakhir, terlukis sketsa diriku, dengan catatan di bawahnya: "Aku tahu kau akan datang mencariku. Tapi, *jangan bersedih*. Cinta kita akan abadi, meskipun hanya ada di dalam mimpi..." Dan di sanalah, di balik lukisan Mei Hua, tertulis satu kalimat dengan tinta emas: **"Apakah kau ingat janji kita di bawah pohon persik?"**
You Might Also Like: Horrific Facial Disfigurement Pet

Post a Comment