Drama Populer: Racun Itu Mengalir Di Nadiku, Seperti Nama Yang Tak Bisa Kulupa.

Oke, ini dia cerita pendek yang terinspirasi dari dracin, dengan sentuhan yang Anda minta: **Judul:** Racun Hujan di Bawah Lentera yang Pudar Hujan menggigil di atap paviliun usang itu, sama menggigilnya dengan hatiku saat melihatnya. Zhao Wei. Nama itu, seperti racun yang mengalir di nadiku, tak pernah bisa kulupa. Dulu, bibirnya adalah madu, janjinya adalah bintang. Sekarang? Hanya cermin buram yang memantulkan pengkhianatan. "Lama tak jumpa, Lian," suaranya rendah, serak, seperti gesekan batu nisan. Tatapannya, yang dulu hangat, kini dingin seperti pedang yang baru diasah. Aku tersenyum tipis. Senyum yang dipaksakan, senyum yang menyimpan lautan badai di baliknya. "Memang lama, Zhao Wei. Terlalu lama untuk melupakan _segala sesuatu_." Cahaya lentera di tengah paviliun berkedip-kedip, nyaris padam, seolah ikut merasakan beban masa lalu kami. Bayangan kami menari di dinding, patah dan terdistorsi, seperti hubungan kami dulu. Dulu... sebelum dia menusukku dari belakang, sebelum dia merebut segalanya. Setiap tetes hujan yang jatuh adalah bisikan kenangan. Kenangan tentang taman bunga persik tempat kami berjanji setia, kenangan tentang malam-malam di bawah rembulan purnama, kenangan tentang ciuman pertama yang terasa seperti sengatan listrik. Semua itu, sekarang, terasa seperti duri yang menghujam jantungku. "Kau terlihat berbeda, Lian," katanya, mendekat. Aku bisa mencium aroma kayu cendana dari jubahnya, aroma yang dulu membuatku merasa aman. "Lebih... kuat." Aku menahan napas. _Kuat?_ Dia tidak tahu apa-apa. Kekuatan yang dia lihat ini adalah topeng yang kutatah dengan air mata dan dendam. "Hidup mengajarkan banyak hal, Zhao Wei. Terutama tentang bagaimana melindungi diri," jawabku, suaraku datar. Dia tertawa kecil, tawa yang tidak sampai ke matanya. "Melindungi diri? Dari siapa, Lian? Dari aku?" Hujan semakin deras. Lentera semakin redup. Dan aku, semakin mendekat ke ujung jurang. "Mungkin," bisikku, mataku menatap langsung ke matanya. "Atau mungkin... dari _diriku sendiri_." Dia mengerutkan kening, kebingungan terpancar di wajahnya. Dia tidak tahu. Dia tidak pernah tahu. Selama bertahun-tahun, dia mengira aku hanyalah korban yang lemah dan merana. Dia tidak tahu bahwa setiap air mata yang kuteteskan adalah benih rencana. Rencana yang kini siap berbuah. Aku mengangkat tanganku, menyentuh pipinya. Sentuhan yang dulu penuh cinta, kini dipenuhi racun. "Kau tahu, Zhao Wei," bisikku, suaraku nyaris tak terdengar di tengah gemuruh hujan. "Racun yang mengalir di nadiku... ternyata tidak hanya satu." Tatapan matanya membesar, penuh ketakutan. Dia akhirnya mengerti. Terlambat. Aku tersenyum. Senyum yang tulus. Senyum yang mengerikan. "Kau ingat kalung giok yang kuberikan padamu dulu?" tanyaku. Dia mengangguk, bibirnya bergetar. "Itu bukan giok biasa. Itu giok yang menyimpan abu..." ... _dari putrinya yang hilang_.
You Might Also Like: Chip And Joanna Gaines Transforming

Post a Comment