Lorong Istana Timur membisu. Dindingnya yang menjulang, dihiasi lukisan naga dan phoenix yang pudar, menyerap setiap suara. Hanya hembusan angin dingin, menyelinap dari balik celah jendela berukir, yang menemani kesunyian abadi. Di sanalah, Putri Lian, yang selama lima tahun dianggap gugur dalam pertempuran di perbatasan utara, berdiri.
Rambutnya, yang dulu sehitam malam, kini disisipi perak. Matanya, dulu penuh tawa, kini memancarkan tatapan DINGIN yang menusuk. Di hadapannya, Kaisar Li, ayahnya sendiri, duduk di singgasana, raut wajahnya diliputi kebingungan dan kecurigaan.
"Lian'er," suara Kaisar Li bergetar, "Kau… benar-benar kau? Kami menerima kabar gugurnya dirimu. Kami berduka."
Lian tertawa kecil, suara yang berdering di lorong sunyi. "Duka? Ayahanda, bukankah duka adalah topeng yang indah untuk menutupi KEPUASAN?"
Kabut tipis mengepul dari cangkir teh yang disuguhkan. Aroma melati yang manis terasa pahit di lidah Lian. Ia mendekat, langkahnya ringan namun mengancam.
"Lima tahun. Lima tahun aku hidup di antara serigala, belajar bukan hanya cara bertahan hidup, tetapi juga cara MENYAKITI." Lian berhenti tepat di depan singgasana, menatap ayahnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kau mengirimku ke perbatasan, ayah. Kau tahu peluangku untuk kembali sangat kecil. Mengapa?"
Kaisar Li memalingkan wajah. "Demi kejayaan kerajaan, Lian'er. Demi keseimbangan."
"Keseimbangan?" Lian mencibir. "Keseimbangan kekuasaan, maksudmu. Aku terlalu kuat, terlalu dicintai rakyat. Aku menjadi ancaman bagi pewarismu yang lemah, Pangeran Wei."
Tangan Lian bergerak cepat. Ia menyambar sebilah pisau kecil dari balik lengan bajunya. Cahaya redup lorong memantul dari bilah tajam itu. Kaisar Li tersentak, matanya membulat.
"Kau ingin membunuhku?" bisik Kaisar Li, suaranya nyaris tak terdengar.
Lian tersenyum. Senyum yang dingin, menakutkan, dan sangat berbahaya. "Membunuhmu? Ayahanda, aku sudah membunuhmu lima tahun yang lalu. Saat kau mengirimku ke perbatasan, saat kau membiarkanku mati di sana, secara tidak langsung tanganmu sudah berlumuran darah."
Ia mendekatkan pisau itu ke tenggorokan Kaisar Li. "Aku kembali bukan untuk membalas dendam. Aku kembali untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku. Kekuatan yang kau rampas."
Lalu, dengan gerakan elegan namun mematikan, Lian menempelkan pisau itu ke pipi Kaisar Li. Tidak untuk melukai, tetapi untuk memberikan sebuah peringatan.
"Aku tidak akan membunuhmu, ayahanda. Kematian terlalu mudah bagimu. Aku akan membiarkanmu hidup… dan menyaksikan kerajaan ini runtuh di tangan putrimu yang 'telah mati'."
Lian melepaskan cengkramannya. Kaisar Li terengah-engah, ketakutan terpancar jelas di wajahnya. Lian berbalik, berjalan menjauh dari singgasana, meninggalkan Kaisar Li yang membisu.
Di ambang pintu, ia berhenti sejenak, menoleh ke belakang. "Bukankah ironis, ayah? KORBANLAH YANG SELAMA INI MEMEGANG KENDALI."
You Might Also Like: 131 Discover Nepal Where Adventure
Post a Comment