**Kisah Puisi: Bayang-Bayang Terlarang** Kabut lavender menyelimuti Danau Bulan Sabit, *seperti ingatan yang samar-samar* terukir di benakku. Di sana, di bawah pohon sakura yang selalu gugur meskipun bukan musim semi, pertama kali aku melihatnya. Pangeran Yi, bukan dari darah biru, melainkan dari senyum yang **menyihir**. Cintaku padanya bagaikan lukisan kuno, *indah namun rapuh*. Setiap tatapan adalah sapuan kuas emas, setiap sentuhan adalah simfoni yang tak terdengar. Kami berdansa di taman rahasia, di mana waktu berhenti berdetak dan bunga persik tak pernah layu. Namun, kisah cinta ini terlarang. Dosanya telah lama ditulis dalam takdir, seperti tinta hitam yang meresap dalam sutra putih. Dia terikat pada yang lain, pada sumpah yang diucapkan di bawah langit berdarah. Aku hanyalah bayang-bayang, *hantu di balik tirai istana*. Cintaku adalah doa yang tak terucap, air mata yang tak jatuh, nyanyian yang tak terdengar. Aku mencintainya di masa lalu, di dimensi waktu yang mungkin hanya ada dalam mimpi. Malam-malamku dipenuhi bisikan angin, menceritakan kisah cintaku yang tragis pada bintang-bintang. Aku mencoba melupakannya, menghapus jejaknya dari hatiku, namun bayangannya selalu kembali, *seperti bulan yang setia pada malam*. Kemudian, suatu malam, di bawah cahaya lentera yang redup, sebuah rahasia terungkap. Gulungan kuno ditemukan, berisi kisah seorang putri yang mencintai pangeran yang terikat, sebuah kisah yang *identik* dengan kisahku. Putri itu, ternyata, adalah **aku**. Reinkarnasi dari cinta yang terlarang. **Misteri terpecahkan**, namun keindahannya menusukku lebih dalam. Cinta ini bukan hanya mimpi, bukan hanya ilusi. Ini adalah *kenyataan yang pahit*, terukir dalam jiwaku dari waktu ke waktu. Aku adalah putri yang tak terselamatkan, dia adalah pangeran yang terikat. Takdir kami adalah untuk mencintai, namun tidak untuk bersama. Air mata akhirnya jatuh, membasahi pipiku. Rasa sakit dan keindahan menyatu, menciptakan **luka** yang tak tersembuhkan. "... *Ingatlah aku*..."
You Might Also Like: Rekomendasi Pelembab Skin Barrier Lokal

Post a Comment