Baiklah, ini dia kisah modern Dracin berjudul 'Kaisar Itu Tersenyum Di Tengah Kudeta, Karena Ia Akhirnya Melihat Siapa Yang Benar-Benar Setia', yang dibalut dengan aroma kopi, hujan kota, dan sisa chat yang tak terkirim: **Kaisar Itu Tersenyum Di Tengah Kudeta, Karena Ia Akhirnya Melihat Siapa Yang Benar-Benar Setia** Hujan kota membungkus Jakarta seperti selimut abu-abu. Di apartemen penthouse, Jian, sang "Kaisar" muda industri teknologi, menyesap kopi *Vietnamese Drip*-nya yang pahit. Notifikasi ponselnya berdering tak henti, berita tentang *Kudeta Perusahaan*. Sebuah konspirasi rumit yang dirancangnya sendiri, untuk melihat siapa yang akan bertahan di sisinya saat badai menerjang. Dulu, ada Mei. Mei, dengan senyumnya yang lebih hangat dari mentari Beijing, dan kecerdasannya yang mengalahkan algoritma terumit. Mereka bertemu di sebuah *startup* kecil, berbagi mimpi tentang dunia yang terhubung, lalu jatuh cinta di antara barisan kode dan rapat hingga larut malam. Notifikasi pertama dari Mei adalah "Selamat pagi, Jian! Semangat!" Sederhana, namun membangkitkan harinya. Pesan terakhirnya? Sebuah chat kosong, tanpa terkirim, di tengah pertengkaran yang bodoh tentang strategi pemasaran. Jian menyentuh layar ponselnya. Foto Mei tersenyum di Bali – kenangan yang membakar dadanya dengan **SESAL**. Ia kehilangan Mei bukan karena pengkhianatan, tapi karena *ketidakmampuannya* untuk jujur tentang ambisi gilanya. Kudeta itu bergerak cepat. Para "menteri" perusahaan satu persatu jatuh, menunjukkan taring serakah mereka. Wang, tangan kanannya yang selalu setia, ternyata hanya boneka yang dikendalikan oleh pesaing. Li, teman masa kecilnya, berbalik menjadi musuh yang haus darah. Satu per satu, topeng itu runtuh. Hujan semakin deras. Aroma kopi bercampur dengan bau keringat dan ketegangan. Jian duduk di singgasananya – kursi kerja ergonomis yang mahal – dan memantau semuanya dari layar monitor. *Semua sudah sesuai rencana.* Lalu, muncul notifikasi dari nomor yang tak dikenal. Sebuah video. Jian membuka video itu dengan jantung berdebar. Di layar, Mei berdiri di tengah kerumunan reporter, di depan gedung perusahaan. Wajahnya tenang, namun matanya memancarkan **KEMARAHAN**. "Jian," suaranya lantang, meskipun teredam oleh suara hujan. "Kau pikir kau bisa bermain-main dengan orang-orang di sekitarmu? Kau pikir kau bisa membeli kesetiaan dengan uang dan kekuasaan? Kau salah. Aku tahu rencanamu sejak awal. Aku tahu semua yang akan terjadi." Mei menarik napas dalam-dalam. "Aku meninggalkanmu bukan karena perbedaan pendapat. Aku meninggalkanmu karena aku melihat kau menjadi monster yang haus kekuasaan. Tapi aku tak akan membiarkanmu menghancurkan orang-orang yang tak bersalah." Layar video beralih ke grafik yang menunjukkan transaksi ilegal yang dilakukan oleh para pengkhianat. Bukti yang tak terbantahkan. "Aku menyerahkan ini ke pihak berwenang. Selamat bermain, Jian. Tapi kali ini, kau akan kalah." Jian tersenyum. Senyum *sinis* yang menyakitkan. Akhirnya, ia melihat. Mei tak pernah meninggalkannya. Dia hanya *menyelamatkannya* dari dirinya sendiri. Kudeta itu berakhir dengan penangkapan para pengkhianat. Jian melepaskan posisinya sebagai CEO. Reputasinya hancur. Tapi, ada perasaan *ringan* di dadanya. Di sisa hari itu, Jian mengirim pesan ke nomor Mei. "Terima kasih." Pesan itu terkirim. Tanda centang biru muncul. Mei tidak membalas. Jian berdiri di balkon, menatap hujan kota yang mulai mereda. Ada *keheningan* yang memekakkan telinga. Ia tahu, ia tak akan pernah bisa mendapatkan Mei kembali. Ia juga tahu, ia pantas mendapatkannya. Ia menutup matanya, membayangkan senyum Mei. Senyum yang tak akan pernah menjadi miliknya lagi. _Dan saat itulah, ia merasakan kekosongan yang sempurna._
You Might Also Like: 35 Kekurangan Moisturizer Lokal Dengan

Post a Comment