Cerpen Seru: Bayangan Yang Mengikuti Langkahku

Baiklah, inilah kisah dracin berjudul 'Bayangan yang Mengikuti Langkahku': **Bayangan yang Mengikuti Langkahku** Hujan jatuh di atas makam. Rintiknya bagai air mata yang tak pernah kering, membasahi batu nisan usang dengan nama yang baru saja terukir: Lin Wei. Di dunia sana, Lin Wei *telah* pergi. Namun di sini, di antara kabut tipis dan aroma tanah basah, ia masih *ada*. Ia, Lin Wei, kini hanyalah bayangan. Sentuhan dingin yang membuat bulu kuduk meremang, aroma melati yang tiba-tiba menyusup di tengah keramaian. Ia kembali bukan karena dendam, bukan karena amarah. Melainkan karena sebuah *kebenaran* yang terpendam, sebuah janji yang tak sempat terucap. Dunia arwah dan dunia manusia berbatasan tipis di matanya. Ia bisa melihat adiknya, Lin Yue, berlutut di makamnya, bahunya bergetar menahan tangis. Ia ingin memeluknya, mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, tapi tangannya hanya menembus tubuh adiknya. Ia *terjebak* di antara dua dunia, sebuah bayangan yang terikat oleh sesuatu yang belum selesai. Setiap malam, ia mengikuti langkah Lin Yue. Melihat adiknya mencari jawaban atas kematiannya yang mendadak. Polisi menyebutnya kecelakaan, namun Lin Yue merasakan ada yang *janggal*. Lin Wei berusaha membimbingnya, memberikan petunjuk melalui bisikan angin, kilasan memori yang muncul di benak adiknya. Rumah mereka, yang dulu dipenuhi tawa, kini terasa *sunyi*. Bayangan Lin Wei menari di dinding, seolah berusaha menceritakan sesuatu. Ia melihat Lin Yue membuka laci meja kerjanya, mencari sesuatu. Jantungnya berdebar. Di sana, di antara tumpukan kertas, tersimpan sebuah surat. Surat itu adalah kunci. Surat yang berisi pengakuan *cinta* dan pengkhianatan. Bayangan Lin Wei mengikuti Lin Yue ke sebuah gudang tua di tepi kota. Tempat itu *gelap* dan pengap, dipenuhi bayang-bayang masa lalu. Di sana, ia melihatnya. Pria itu. Pria yang dulu menjadi sahabatnya, pria yang mengkhianatinya. Pria itu adalah dalang di balik 'kecelakaan' itu. Pertengkaran meledak. Kata-kata tajam bagai pisau saling menikam. Lin Wei hanya bisa menyaksikan, tak berdaya. Ia ingin berteriak, ingin melindungi adiknya, namun suaranya *terkunci*. Lalu, pria itu mengeluarkan pistol. Detik itu, waktu terasa berhenti. Lin Wei mengerahkan seluruh energinya. Ia membangkitkan badai debu di dalam gudang, mengganggu pandangan pria itu. Lin Yue memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri. Di saat yang bersamaan, kebenaran terungkap. Lin Wei tidak ingin membalas dendam. Ia hanya ingin melindungi adiknya. Ia hanya ingin Lin Yue tahu apa yang *sebenarnya* terjadi. Hujan berhenti. Mentari pagi menyusup di antara celah awan, menerangi makam Lin Wei. Lin Yue berdiri di sana, menggenggam surat pengakuan cinta itu. Ia *mengerti* sekarang. Ia mengerti mengapa bayangan itu selalu mengikutinya. Lin Wei merasakan *kedamaian* menyelimutinya. Beban berat yang selama ini menghantuinya akhirnya terangkat. Ia bisa pergi sekarang. Ia *bebas*. Dan di saat terakhirnya, saat cahaya mentari menyentuh wajahnya yang pucat, ia merasakan sentuhan lembut di pipinya, seolah sebuah ciuman perpisahan...
You Might Also Like: 78 Manfaat Pelembab Ringan Lokal Untuk

Post a Comment