Endingnya Gini! Bayangan Yang Menatapku Dari Balik Api

Hujan menggigil malam itu, sama seperti hati Mei yang membeku bertahun-tahun lamanya. Butir-butir air menghantam atap paviliun, menciptakan irama sendu yang mengiringi tatapannya pada sosok di seberang meja. Lin, pria yang dulu adalah dunianya, kini hanya siluet redup di balik cahaya lentera yang *nyaris padam*. Dulu, mereka adalah sepasang kekasih yang terikat janji di bawah pohon *sakura* yang bermekaran. Janji yang dihancurkan oleh ambisi dan pengkhianatan Lin. Mei masih ingat jelas malam itu, malam ketika Lin memilih kekuasaan dan meninggalkan dirinya terhuyung dalam kegelapan. Bayang-bayang malam itu seolah *patah* dan terus menghantuinya hingga kini. "Sudah lama, Mei," suara Lin terdengar serak, seolah memikul beban yang sama beratnya. Mei hanya mengangguk, bibirnya terkunci rapat. Rasa sakit dan amarah bercampur aduk dalam dadanya, membentuk gumpalan pahit yang sulit ditelan. Ia menatap lentera di antara mereka. Cahayanya menari-nari, mempermainkan bayangan mereka di dinding. Bayangan yang *menatapnya dari balik api*, mengingatkannya pada masa lalu yang membara. Lin bercerita tentang penyesalannya, tentang harga yang harus dibayarnya untuk kekuasaan. Ia mengakui bahwa kehilangan Mei adalah kehilangan terbesarnya. Mei mendengarkan tanpa ekspresi, hatinya terbuat dari es. Kata-kata Lin hanya angin lalu, tidak mampu mencairkan kebencian yang sudah mengakar. "Aku tahu aku tidak pantas dimaafkan," lanjut Lin, suaranya bergetar. "Tapi kumohon, biarkan aku menebus kesalahanku." Mei tersenyum pahit, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Menebus? Bagaimana kau bisa menebus tahun-tahun yang hilang, Lin? Bagaimana kau bisa mengembalikan *hatiku* yang kau hancurkan?" Ia berdiri, melangkah mendekat ke Lin. Di matanya, Lin melihat sesuatu yang lebih berbahaya dari sekadar amarah: *ketenangan yang mematikan*. "Kau salah, Lin," bisik Mei, suaranya dingin seperti es. "Bukan aku yang menderita. Justru akulah yang selama ini merencanakan ini. Setiap langkahmu, setiap keputusanmu... semua sudah aku atur." Lin terkejut, matanya membelalak. "Apa maksudmu?" Mei tersenyum lagi, kali ini lebih lebar, lebih menakutkan. Cahaya lentera menyoroti wajahnya, memperlihatkan senyum *iblis* yang tersembunyi di balik wajah cantiknya. "Semua yang terjadi... adalah karena racun yang perlahan-lahan kau minum setiap hari, Lin." Namun, sebelum Lin sempat mencerna kata-katanya, Mei menambahkan dengan bisikan yang lebih mengerikan lagi: "Dan racun itu... *adalah cintaku*."
You Might Also Like: Cerpen Bayangan Yang Menjadi Saksi Cinta

OlderNewest

Post a Comment