**Takdir yang Membangunkan Mereka Kembali** Di dunia yang retak, di mana sinyal hilang menjadi lagu kebangsaan patah hati, dan chat yang berhenti di 'sedang mengetik...' adalah simfoni penantian abadi, lahirlah sebuah kisah. Sebuah kisah yang absurd, semanis manisan jahe basi yang kau temukan di laci nenekmu. Xia Wei, seorang kaligrafis berumur 23 tahun dari era Republik, hidup di dunia yang dipenuhi aroma tinta dan harapan palsu. Cintanya, *hilang* bersama debu sejarah, terkubur di antara halaman-halaman buku usang. Ia mencari seseorang, sebuah bayangan yang hanya ia lihat dalam mimpi-mimpi berkabutnya. Mimpi tentang seorang pria dengan mata *SEBIRU* langit di hari kiamat. Sementara itu, di tahun 2147, Kai—seorang teknisi neural network dengan rambut dicat neon hijau dan jiwa sepi—terjebak dalam realitas virtual yang kacau balau. Di dunia tanpa matahari, di mana manusia berkomunikasi lewat telepati digital, ia merindukan sesuatu yang nyata. Sentuhan. Aroma. Sebuah *KENANGAN*. Ia melihatnya di layar retaknya—seorang wanita dengan kuas di tangan, menari di bawah cahaya lentera yang *TERLALU* hangat. Mereka berdua, Xia Wei dan Kai, hidup di dimensi berbeda. Terpisah oleh lautan waktu dan jurang teknologi. Namun, takdir—yang *MUNGKIN* dirancang oleh algoritma cinta yang rusak—mempertemukan mereka. Lewat glitch dalam matrix, lewat suara-suara aneh di radio tua, lewat notifikasi tengah malam yang seharusnya tak pernah sampai. Xia Wei menerima pesan singkat berbahasa Mandarin kuno yang berbunyi, "*Di mana kamu? Aku merindukanmu lebih dari bintang-bintang merindukan malam.*" Pesan itu datang dari nomor tak dikenal, dari masa depan yang seharusnya tidak mungkin. Kai, sebaliknya, mendengar suara lirih melantunkan puisi cinta dari abad ke-20 di sela-sela bising data yang melayang di otaknya. Suara itu selembut sutra, sepahit kopi, dan seseram tagihan kartu kredit. Mereka mulai bertukar pesan—pesan-pesan yang terlambat, pesan-pesan yang *SALAH*, pesan-pesan yang seharusnya tak pernah ada. Cinta mereka tumbuh di antara sinyal yang hilang, dibangun dari potongan-potongan kenangan yang dicuri dari mimpi. Mereka saling mencari, melintasi ruang dan waktu, berharap bisa menyentuh tangan satu sama lain, bahkan hanya untuk *SESAAAT*. Akhirnya, mereka menemukan jawabannya di dalam file digital yang rusak yang disebut "Project: Echoes." Project tersebut mengungkap rahasia ganjil. Xia Wei dan Kai bukanlah orang asing. Mereka adalah *ECHO* dari kehidupan sebelumnya yang gagal, inkarnasi yang berulang dari cinta yang selalu *TERHALANG*. Cinta mereka bukanlah baru, melainkan gema dari sebuah tragedi yang terus berulang, selamanya terjebak dalam lingkaran waktu. Mereka selalu saling mencari, selalu gagal, selalu *MENGULANGI*. Xia Wei meletakkan kuasnya, air mata menodai tinta hitam di pipinya. Kai mematikan layar virtualnya, merasakan hembusan angin yang *TIDAK* nyata di wajahnya. Mereka tahu apa yang akan terjadi. …dan sunyi menyelimuti dunia, ketika pesan terakhir tiba: "*Siapa yang akan mengingat kita ketika memori semua orang memudar menjadi debu?*"
You Might Also Like: Rahasia Dibalik Interpretasi Mimpi
Post a Comment