TOP! Rahasia Yang Menjadi Bunga Di Musim Dingin

Oke, siap. Berikut adalah kisah dracin intens berjudul 'Rahasia yang Menjadi Bunga di Musim Dingin', dengan bumbu dramatis dan klimaks mematikan: **Rahasia yang Menjadi Bunga di Musim Dingin** Malam itu dingin menggigit, seperti cengkeraman *iblis*. Salju turun tanpa ampun, menutupi tanah dengan selimut putih yang menyimpan noda **MERAH** – darah. Aroma dupa terbakar memenuhi udara, bercampur dengan bau anyir yang menusuk hidung. Di tengah kuil yang remang-remang, berdiri Xiao Lian, matanya membara seperti bara api di tungku pembakaran. Di hadapannya, berlutut Jian Feng, mantan kekasihnya, wajahnya pucat pasi. "Kau pikir bisa lari dariku, Jian Feng?" bisik Xiao Lian, suaranya bagai desisan ular. "Kau pikir bisa mengubur rahasia itu dalam-dalam?" Jian Feng mendongak, air mata membeku di pipinya. "Xiao Lian... aku... aku tidak punya pilihan." "TIDAK PUNYA PILIHAN?!" Xiao Lian tertawa getir, suaranya bergema di antara dinding kuil. "Kau merebut kehormatan keluargaku, kau membunuh ayahku, dan kau bilang TIDAK PUNYA PILIHAN?!" Kilatan masa lalu melintas di benaknya. Malam saat Jian Feng datang, membawa janji cinta abadi di satu tangan, dan pengkhianatan di tangan yang lain. Janji yang diukir di atas abu, sumpah yang diludahi di bawah rembulan. Cinta mereka, yang seharusnya mekar seperti bunga plum di musim dingin, layu dan membusuk menjadi kebencian yang tak terpadamkan. "Aku mencintaimu, Xiao Lian," lirih Jian Feng, suaranya serak. Xiao Lian mendekat, mengulurkan tangannya. Bukan untuk memaafkan, bukan untuk menyentuh. Melainkan untuk mencabut belati perak yang tersembunyi di balik jubahnya. Cahaya bulan menari di bilah tajam itu, memantulkan kegelapan di hatinya. "Cinta? Kau tahu apa arti cinta? Cinta adalah ketika kau rela mengorbankan segalanya untuk kebahagiaan orang yang kau cintai. Kau... hanya memikirkan dirimu sendiri." Dengan gerakan yang anggun namun mematikan, Xiao Lian menusukkan belati itu ke jantung Jian Feng. Pria itu tersentak, lalu ambruk ke salju, matanya menatap kosong ke langit-langit kuil. Xiao Lian berlutut di samping mayat Jian Feng. Air matanya menetes, membeku menjadi butiran es di pipinya. Bukan air mata penyesalan, melainkan air mata kelegaan. "Ini... balasanku," bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar. "Balasan dari hati yang terlalu lama menunggu." Dia bangkit, meninggalkan kuil yang berlumuran darah. Salju terus turun, menutupi jejaknya, menelan rahasia yang telah terbongkar. Di tangannya, tergenggam erat belati perak itu, masih berlumuran darah. Xiao Lian melangkah keluar ke dunia yang membeku, bayangan gelap yang menghilang di balik badai salju. _Namun, benarkah semuanya sudah berakhir?_
You Might Also Like: Reseller Skincare Modal Kecil Untung

OlderNewest

Post a Comment