Bikin Penasaran: Pelukan Yang Menyembunyikan Luka

Baiklah, inilah cerita pendek bergaya dracin berjudul 'Pelukan yang Menyembunyikan Luka': **Pelukan yang Menyembunyikan Luka** Rintik hujan menari di atap Paviliun Bulan, iramanya seirama dengan lantunan *guqin* yang memilukan. Di balik tirai bambu, Lin Mei memetik dawai, setiap nada adalah air mata yang tak jatuh, setiap getaran adalah kenangan yang tak terhapus. Lima tahun. Lima tahun ia mengabdikan diri pada Pangeran Wei, membangun dinasti bisnisnya dari nol, mendampinginya di setiap langkah, hanya untuk menemukan dirinya digantikan oleh wanita lain. Bukan amarah yang mendidih dalam dadanya, melainkan kehampaan yang membekukan. Ia memilih diam. Bukan karena lemah, *tidak*, Lin Mei jauh dari kata lemah. Ia menyimpan rahasia. Sebuah rahasia yang lebih gelap dari malam, sebuah rahasia yang jika terungkap, akan meruntuhkan *seluruh* kekaisaran Wei. Pangeran Wei, dengan wajah menyesal, mendekat. "Mei'er," bisiknya, suaranya serak. "Maafkan aku." Lin Mei hanya tersenyum tipis. Senyum yang tak sampai ke matanya. Ia mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Pangeran Wei mendekat. Pangeran itu menurut, berlutut di hadapannya, dan Lin Mei memeluknya. Erat. Seolah tak ingin melepaskannya. *Pelukan ini adalah penguburan,* pikir Lin Mei. Lima tahun lalu, ia menemukan sebuah buku kuno di perpustakaan terlarang istana. Buku itu berisi ramalan tentang kebangkitan dan kejatuhan dinasti Wei. Dan yang *terpenting*, buku itu menyebutkan bahwa Pangeran Wei, pewaris takhta, dilahirkan dengan penyakit mematikan. Penyakit yang hanya bisa disembuhkan dengan *darah* dari garis keturunan tertentu. Garis keturunan Lin Mei. Lin Mei, dengan cinta butanya, rela memberikan darahnya secara berkala, memperpanjang usia Pangeran Wei. Ia percaya bahwa dengan kesetiaannya, ia bisa mengubah takdir. Namun, takdir memang kejam. Pangeran Wei sembuh total setelah menikahi putri dari kerajaan tetangga yang memiliki ramuan obat *legendaris*. Sekarang, dalam pelukan terakhir ini, Lin Mei diam-diam memberikan *racun* ke dalam tubuh Pangeran Wei. Bukan racun biasa. Racun yang bereaksi dengan obat legendaris itu. Racun yang perlahan akan menggerogoti organnya, membuatnya menderita, sebelum akhirnya meregang nyawa. Beberapa hari kemudian, Pangeran Wei jatuh sakit. Dokter kerajaan tidak bisa menemukan penyebabnya. Ramuan obat tidak berfungsi. Kekaisaran Wei dilanda kepanikan. Lin Mei, dengan tenang, menyaksikan semuanya dari jauh. Ia tahu, takdir telah berbalik arah. Saat senja memudar, Lin Mei meninggalkan Paviliun Bulan. Ia menatap langit, merasakan angin dingin menerpa wajahnya. Balas dendamnya tidak berdarah, tetapi *mematikan*. Takdir telah melakukan tugasnya. Di tangannya, ia menggenggam selembar kain sutra. Kain itu adalah bagian dari gaun pengantin putri kerajaan tetangga. Di atas kain itu, terukir sebuah simbol rahasia. Simbol yang juga terukir di buku kuno yang ia temukan lima tahun lalu. Simbol yang menandakan... *pengkhianatan*. Putri kerajaan tetangga, ternyata, *mengetahui* segalanya tentang penyakit Pangeran Wei dan ramuan obatnya. Ia *sengaja* menikahi Pangeran Wei, bukan karena cinta, tetapi untuk memicu *kehancuran* dinasti Wei. Ia adalah pion dalam permainan politik yang lebih besar. Lin Mei tersenyum getir. Ia telah membalas dendam pada Pangeran Wei. Tapi sekarang, ia menyadari bahwa ia harus melakukan sesuatu yang lebih besar. Sesuatu untuk menyelamatkan kekaisaran Wei dari *rencana* yang lebih jahat. Lin Mei berjalan menuju gerbang istana, meninggalkan semua yang pernah ia kenal. Dan di kejauhan, suara *guqin* masih terdengar, melantunkan kesedihan yang abadi… Ia tahu, perjalanannya baru saja dimulai, dan ia harus berani, meskipun *hati*nya hancur berantakan.
You Might Also Like: 0895403292432 Reseller Kosmetik Bisnis

OlderNewest

Post a Comment