Kisah Populer: Aku Mencintaimu Bahkan Saat Kau Tak Lagi Percaya Reinkarnasi

Tentu saja, ini dia kisah dracin intens yang kamu minta: **AKU MENCINTAIMU BAHKAN SAAT KAU TAK LAGI PERCAYA REINKARNASI** Malam itu, salju turun bagai belati perak yang menikam bumi. Angin mendesir menyayat kulit, membawa serta aroma dupa yang menyengat, bercampur dengan bau amis darah yang membeku di atas hamparan putih. Di tengah reruntuhan kuil kuno, berdiri Jing Wei, gaun merahnya berkibar seperti kobaran api di tengah badai salju. Di hadapannya, berlutut Li Zhao, matanya kosong, memandang nanar pada pedang berlumuran darah yang tergeletak di dekat tangannya. Udara terasa berat, seolah dipenuhi oleh dendam yang berusia ribuan tahun. Jing Wei menatap Li Zhao dengan tatapan dingin, namun di balik ketegasan itu, tersimpan lautan kesedihan yang tak terucapkan. "Kau... kau membunuhnya?" bisik Li Zhao, suaranya serak. "Dia *harus* mati," jawab Jing Wei, nadanya datar. "Seperti halnya kau dulu." Kilatan amarah membara di mata Li Zhao. "Dulu? Apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti!" Jing Wei tertawa pahit. "Kau tidak ingat? Bagaimana bisa kau melupakan semua itu, Li Zhao? Bagaimana bisa kau melupakan janji kita di atas abu, di hadapan *dewa-dewa yang telah lama meninggalkan kita*?" Ia mendekat, berjongkok di hadapan Li Zhao, menarik dagunya dengan kasar. "Kau Li Wei, bukan? Jenderal yang mengkhianati cintaku demi kekuasaan? Jenderal yang menodai kehormatanku dengan menikahi putri kerajaan?" Li Zhao menggeleng keras, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Jing Wei. "Itu bukan aku! Aku... aku hanya Li Zhao, seorang tabib biasa!" Jing Wei melepaskan cengkeramannya, berdiri tegak. "Tabib? Seorang tabib yang memiliki bekas luka yang sama persis di bahunya seperti yang dimiliki Li Wei? Seorang tabib yang memiliki liontin giok naga yang hanya diberikan kepada keluarga kerajaan? **JANGAN BERBOHONG PADAKU!**" Suasana semakin tegang. Dupa yang terbakar beraroma getir, mencampuri aroma darah yang semakin menyengat. Air mata mengalir di pipi Li Zhao, membeku sebelum sempat menyentuh salju di bawahnya. "Aku... aku tidak tahu apa yang kau katakan," lirih Li Zhao. "Aku tidak ingat apapun." Jing Wei memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam. "Aku mencintaimu, Li Wei. Bahkan setelah kau mengkhianatiku, aku tetap mencintaimu. Aku menunggu reinkarnasimu selama ratusan tahun, berharap kau akan mengingatku, berharap kau akan meminta maaf." Ia membuka mata, tatapannya penuh dengan kesedihan dan amarah yang menyakitkan. "Tapi kau tidak mengingatku. Kau menjalani kehidupanmu sebagai orang lain, melupakan semua janji kita. Karena itu... kau harus membayar." Dengan gerakan cepat, Jing Wei mencabut pedang dari tanah dan mengarahkannya ke jantung Li Zhao. Li Zhao tidak melawan. Ia hanya menatap Jing Wei dengan tatapan kosong, seolah pasrah dengan takdirnya. Sebelum pedang itu menusuk dadanya, Jing Wei berhenti. Ia menatap wajah Li Zhao dengan seksama, mencari setitik saja penyesalan, setitik saja kenangan. "Aku memberimu kesempatan terakhir, Li Wei. Ingatlah. Ingatlah aku. Ingatlah janji kita." Li Zhao menggeleng pelan. "Aku... aku tidak bisa." Jing Wei menghela napas panjang, dan dengan satu gerakan pasti, ia menusukkan pedang itu ke jantung Li Zhao. Darah memuncrat, mewarnai salju di sekeliling mereka dengan warna merah yang pekat. Li Zhao ambruk ke tanah, napasnya tersengal-sengal. Jing Wei menatapnya dengan tatapan kosong, seolah jiwanya telah ikut mati bersamanya. "Selamat tinggal, Li Wei," bisik Jing Wei. "Selamat tinggal untuk selamanya." Ia mencabut pedang itu dan berbalik, meninggalkan jasad Li Zhao di tengah hamparan salju yang berlumuran darah. *** Beberapa hari kemudian, di sebuah desa terpencil, seorang wanita tua menemukan sebuah liontin giok naga tergeletak di dekat sungai. Ia mengambil liontin itu dan membersihkannya. Saat ia menggenggam liontin itu erat-erat, sebuah ingatan melintas di benaknya: seorang jenderal muda berjanji akan mencintainya selamanya, di bawah langit yang penuh dengan bintang. Wanita tua itu tersenyum pahit. "Ternyata... kau tidak pernah benar-benar melupakanku." Ia menggenggam liontin itu semakin erat, dan sebuah rencana mulai terbentuk di benaknya. Balas dendam yang tenang namun mematikan. Balasan dari hati yang terlalu lama menunggu. Di malam yang sunyi, dengan senyum dingin menghiasi wajahnya, wanita tua itu berbisik kepada bulan: "Giliranmu selanjutnya."
You Might Also Like: Eva Mendes Plastic Surgery Conversation

OlderNewest

Post a Comment