Hujan gerimis menari-nari di atap paviliun. Aromanya, aroma tanah basah dan kenangan pahit, menusuk indra penciuman Lin Wei seperti jarum. Di depannya, berdiri tegap sosok Jiang Cheng, punggungnya menghadapnya, setegap pohon pinus di musim dingin. Dulu, punggung itu adalah tempat berlindung, sekarang, adalah dinding pemisah abadi.
"Jiang Cheng..." Suaranya parau, terpenggal oleh isak yang ditahannya.
Jiang Cheng berbalik perlahan. Tatapan matanya, dulu seteduh danau di musim semi, kini sedingin pecahan es. "Lin Wei," jawabnya datar. Hanya dua kata, namun mampu meremukkan sisa-sisa harap di dada Lin Wei.
Lima tahun berlalu sejak malam itu. Malam ketika janji tak terucap terukir dalam hati mereka. Malam ketika Lin Wei, dengan mata berbinar dan hati penuh cinta, menatap Jiang Cheng dan berharap. Berharap dia akan mengulurkan tangan, menariknya dari jurang keluarga yang hancur, dan membawanya ke sisinya, selamanya.
Namun, Jiang Cheng memilih diam. Diam dan menikahi putri keluarga kaya, demi menyelamatkan perusahaan keluarganya. Diam dan membiarkan Lin Wei terpuruk dalam kesendirian, menyembuhkan luka dengan air mata dan kebencian yang perlahan tumbuh.
"Apakah kamu... bahagia?" Lin Wei bertanya, pertanyaan yang bertahun-tahun dipendamnya.
Jiang Cheng menghela napas, uap napasnya mengepul di udara dingin. "Kebahagiaan adalah kata yang mewah, Lin Wei. Tidak semua orang bisa memilikinya."
Omong kosong! Lin Wei ingin berteriak. Dia telah mengorbankan segalanya untuknya. Menunggu dalam diam, berharap Jiang Cheng akan menepati janji tak tertulis itu. Janji tentang mereka, tentang masa depan, tentang cinta yang ABADI.
"Aku..." Jiang Cheng terdiam sejenak, matanya terpaku pada setangkai bunga camelia merah di dekat kaki Lin Wei. "Aku menyesal."
Penyesalan. Kata itu terdengar hampa di telinga Lin Wei. Terlalu terlambat. Terlalu hambar.
Lima tahun kemudian, Lin Wei berdiri di balkon megah, menghadap kota yang gemerlap. Dia, Lin Wei, kini menjadi salah satu wanita paling berpengaruh di negeri ini. Dengan satu sentuhan jarinya, dia bisa mengguncang kekaisaran bisnis Jiang Cheng sampai ke akarnya. Pernikahan Jiang Cheng telah lama berakhir, meninggalkan dia sendirian dan bangkrut.
Dia tidak pernah merencanakan ini. Dia hanya berusaha bertahan, berusaha meraih kembali hidupnya. Namun, TAKDIR memiliki caranya sendiri untuk menuntut keadilan.
Dia mengangkat gelas anggurnya, menatap pantulan wajahnya sendiri. Wajah yang dulu penuh cinta, kini dipenuhi tekad dan... mungkin, sedikit dendam.
Senyum tipis terukir di bibirnya. Dia bisa saja mengulurkan tangan, menyelamatkannya. Tapi, mengapa dia harus melakukan itu?
Cinta dan dendam, seperti dua sisi mata uang yang sama, terus berputar di dalam hatinya, dan dia tahu, pertaruhan ini baru saja dimulai.
You Might Also Like: 7 Fakta Tafsir Dipatuk Kadal Kebun
Post a Comment