Judul: Senja Berdarah di Balik Lentera Usang Hujan menggigil di atap paviliun, sama dinginnya dengan tatapan Lin Yue yang diarahkan padaku. Delapan tahun. Delapan tahun sejak aku, Jiang Wei, *mengkhianati* cintanya demi ambisi kotor keluarga. Delapan tahun sejak kata-kata terakhirnya terngiang-ngiang di telingaku: "Kau akan menyesal, Jiang Wei. Kau akan menyesalinya seumur hidupmu." Lentera usang di tengah paviliun berkedip-kedip, cahayanya nyaris padam. Sama seperti harapan di hatiku untuk menebus dosa. Bayangan kami menari patah di dinding, gambaran ironis dari kebahagiaan yang pernah kami ukir bersama di tempat ini. "Kau datang," ucap Lin Yue, suaranya serak. Tak ada kehangatan, hanya lapisan es tipis yang siap membekukan hatiku. Rambutnya tergerai basah, membingkai wajahnya yang *lebih tirus* dari yang kuingat. Aku mengangguk. "Aku datang." Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Aku datang untuk meminta maaf. Aku datang untuk meluruskan semua yang bengkok. Aku datang untuk, *mungkin*, merebut kembali hatinya yang telah kulukai. Betapa naifnya aku. "Kau pikir, permintaan maafmu cukup untuk menghapus semua luka?" Lin Yue tertawa sinis. Tawa itu seperti serpihan kaca yang menusuk-nusuk dadaku. Aku mendekat, berusaha meraih tangannya. Tapi dia menghindar, gerakannya lincah dan penuh kewaspadaan. "Aku tahu tidak cukup, Lin Yue. Tapi biarkan aku-" "CUKUP!" sentaknya. Matanya menyala-nyala, bukan dengan cinta, melainkan dengan kebencian yang membara. "Kau pikir aku lemah? Kau pikir aku hanya bisa meratapi nasibku?!" Aku terdiam. Di mata itu, aku melihat sesuatu yang tak pernah kubayangkan. Bukan hanya luka, tapi juga… **KEKUATAN**. "Kau salah, Jiang Wei. Selama delapan tahun ini, aku tidak hanya meratapi nasibku. Aku *merencanakan segalanya*. Aku membuatmu datang ke sini. Aku membuatmu percaya bahwa kau bisa menebus dosa." Lin Yue tersenyum. Senyum yang lebih menakutkan daripada tatapan membenci sekalipun. Dia melangkah mundur, menjauh dari cahaya lentera. Bayangannya memanjang, menelan diriku dalam kegelapan. "Kau tahu, Jiang Wei, alasan sebenarnya keluargamu bisa berjaya?" bisiknya. Suaranya merayap di tulang punggungku, membuatku menggigil lebih dari sekadar karena hujan. Lalu, sebelum kegelapan menelanku sepenuhnya, sebelum aku bisa menjawab pertanyaannya, Lin Yue mengucapkan satu kalimat yang membongkar semua yang aku tahu tentang masa lalu kami: _“Semua kekayaan keluargamu adalah *hasil pengorbanan* keluargaku, dan aku akan merebutnya kembali, selangkah demi selangkah…”_
You Might Also Like: Arti Mimpi Masuk Rumah Elang Jawa

Post a Comment