Harus Baca! Air Mata Yang Menyambut Balas Dendam

Baiklah, ini kisah pendeknya: **Bisikan Angin di Lembah Dendam** Hujan menggigil membasahi atap paviliun reyot, setiap tetesnya seolah memukul-mukul kenangan yang berusaha kulupakan. Di sinilah, di lembah terpencil ini, aku menunggu. Menunggu **DIA**. Lima tahun. Lima tahun sejak pengkhianatan itu menghancurkan segalanya. Lima tahun sejak senyumnya, yang dulu sehangat mentari pagi, berubah menjadi duri yang menusuk jantungku setiap malam. Dulu, aku mengenalnya sebagai Lin. Senyumnya adalah duniaku, tawanya adalah melodi yang menenangkan. Kami berjanji di bawah pohon sakura yang sedang mekar, diiringi nyanyian sungai yang mengalir jernih. Kami berjanji untuk selamanya. Namun, janji hanyalah kata-kata. Bayangan masa lalu menari-nari di depan mataku. Aku ingat hari itu. Hari ketika aku melihatnya berpelukan dengan *Pria Itu*. Hari ketika duniamu runtuh, berkeping-keping, menjadi abu dan debu. Hari ketika air mata ini…air mata yang terus mengalir hingga sekarang…mengeringkan seluruh kebahagiaanku. Cahaya lentera di tanganku nyaris padam, sama seperti harapanku. Aku menatap cermin buram di depanku. Wajahku, yang dulu cerah, kini dipenuhi garis-garis kesedihan dan kebencian. "Lin…," bisikku, suaraku serak. "Kau tahu, bukan? Kau tahu aku tidak akan membiarkan ini begitu saja." Setiap malam, aku menyusun rencana. Rencana yang rumit, yang membutuhkan kesabaran dan ketelitian. Rencana yang akan membuatnya merasakan sakit yang sama, atau bahkan lebih. Aku menggenggam erat kalung giok peninggalan ibuku. Giok itu dingin, tapi di balik dinginnya, tersimpan kekuatan. Kekuatan untuk membalas dendam. Suara derap kaki terdengar mendekat. Jantungku berdegup kencang. Dia datang. Pintu paviliun terbuka. Sesosok pria berdiri di ambang pintu. Wajahnya yang dulu tampan, kini terlihat lelah dan berkerut. Matanya yang dulu bersinar, kini redup. "Mei…?" ucapnya lirih. Aku tersenyum. Senyum yang dingin, senyum yang mematikan. "Sudah lama, Lin," jawabku. Dia melangkah masuk. Hujan semakin deras. Bayangan kami saling bertautan, menciptakan siluet yang mengerikan di dinding. Percakapan mengalir pelan, seperti sungai yang membawa racun. Kata-kata manis bercampur dengan tuduhan pahit. Penyesalan bertemu dengan kemarahan. Akhirnya, aku mengungkap semuanya. Rencana yang sudah kulakukan selama lima tahun. Rencana yang akan menghancurkan hidupnya, seperti dia menghancurkan hidupku. Dia terkejut. Matanya membelalak. Dia tidak menyangka. Dia tidak tahu bahwa gadis yang dulu dicintainya, kini telah berubah menjadi *monster* yang haus darah. Aku menatapnya dengan tatapan kosong. "Kau tahu, Lin," bisikku. "Dendam ini adalah satu-satunya hal yang membuatku tetap hidup." Dia jatuh berlutut. Memohon ampun. Tapi aku tidak peduli. Saat fajar menyingsing, lembah itu dipenuhi kabut tebal. Lin…tergeletak tak bernyawa di lantai. Aku berbalik, berjalan menjauh dari paviliun reyot itu. Dendamku sudah terbalas. Tapi… mengapa hatiku masih terasa kosong? Kemudian, aku melihatnya. Seorang wanita, berdiri di kejauhan, tersenyum padaku. Senyum yang sama seperti senyum Lin dulu. Senyum yang menghancurkan duniaku. Wanita itu mendekat. Dia memegang sebuah belati berlumuran darah. "Kerja bagus, adikku," ucapnya. "Kau telah menyelesaikan tugasmu. Sekarang giliranmu untuk memenuhi janji kita… karena Lin… adalah *ayah kita*."
You Might Also Like: Absurd Tapi Seru Pelukan Yang

Post a Comment